Teks Negosiasi: Teori Menulis Teks Negosiasi

Pengertian menulis

Menurut Slamet (2008a: 97) menulis adalah serangkaian aktivitas (kegiatan) yang terjadi dan melibatkan beberapa fase (tahap), yaitu fase pramenulis (persiapan), penulisan (pengembangan isi karangan), dan pasca penulisan (telaah dan revisi atau penyempurnaan tulisan).

Menurut Lado dalam Tarigan (1983: 21) bahwa menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut.

Menurut Murtono (2010: 27) pengertian menulis hanya dikhususkan untuk penyampaian: ide, gagasan, pendapat dan sebagainya yang berupa tulisan saja.

Menulis Teks Negosiasi

Menurut Tarigan (1983: 3) menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif.

Menulis juga dapat didefininsikan sebagai suatu kegiatan yang penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat medianya (Suparno dalam Slamet 2008a: 96).

Definisi lain dari  menulis adalah sarana untuk memperdalam pemahaman siswa terhadap konsep atau praktik teoretis serta pemecahan masalah dalam berbagai disiplin ilmu (Rich, Miller, and Detora, 2011:1).

Pendapat lain disampaikan Burhan Nurgiyantoro dalam Andayani (2009: 28) bahwa menulis memiliki pengertian sebagai aktivitas mengungkapkan gagasan melalui bahasa.

Adapun Hernowo dalam Andayani (2009: 28) menegaskan bahwa menulis merupakan aktivitas intelektual praktis yang dapat dilakukan oleh siapa saja yang amat berguna untuk mengukur sudah beberapa tinggi pertumbuhan rohani kedua belah otak, baik otak kanan maupun otak kiri.

The Liang Gie dalam Andayani (2009: 28) menyamakan pengertian menulis dengan mengarang. Diungkapkan bahwa menulis arti pertamanya ialah pembuatan huruf, angka, nama, sesuatu tanda kebahasaan apapun dengan suatu alat tulis pada suatu halaman tertentu. Kini dalam pengertiannya yang luas. Menulis merupakan kata sepadan yang mempunyai arti sama dengan mengarang. Mengarang adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis melalui masyarakat pembaca untuk dipahami.

Rukayah (2013: 6) menyatakan bahwa kemampuan menulis merupakan suatu kecakapan seseorang dalam menyampaikan pesan melalui lambang-lambang grafik baik dalam bentuk formal maupun non-formal, sehingga pesan yang disampaikan dapat dimengerti maksud dan maknanya. Untuk memulai menulis tentunya seseorang akan mengalami beberapa hambatan.

Menurut Wardhana dan Ardianto, ada dua penyebab utama yang menjadi faktor penghambat kegiatan menulis. Faktor yang pertama adalah faktor internal yang notabene faktor yang berasal dari dalam diri individu. Faktor internal yang sering terjadi meliputi; seorang individu belum memiliki kebiasaan membaca buku, belum memiliki kemampuan berbahasa yang baik, dan belum adanya minat atau keinginan untuk menulis.

Kemudian yang kedua adalah faktor eksternal, merupakan faktor penghambat yang bersal dari luar pribadi setiap individu. Faktor eksternal yang menghambat seseorang untuk menulis adalah sulitnya mendapat bahan acuan dan referensi untuk menulis, sulit mencari topik ataupun tema untuk bahan tulisan, dan kesulitan dalam menyusun kalimat baku (Kuncoro, 2009: 6 -7).

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan menulis teks merupakan kegiatan yang melibatkan pikiran dan perasaan yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk-bentuk grafis dengan menggunakan bahasa yang komunikatif, sehingga pembaca dapat mengerti dan memahami apa yang disampaikan. Kegiatan menulis melibatkan tiga fase dalam pengerjaannya, yaitu fase pramenulis, menulis, dan pasca menulis.

Sementara itu, setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi tulisan seseorang. Faktor tersebut adalah faktor internal dan eksternal dari dalam diri masing-masing individu.

Tujuan dan manfaat menulis

Menulis merupakan alat komunikasi yang tidak langsung, tentunya memiliki maksud dan tujuan. Sehubungan dengan hal ini, D’Angelo dalam Tarigan (1983: 23 – 24) mengemukakan beberapa jenis batasan tujuan menulis antara lain:

  1. Tulisan yang bertujuan untuk memberitahukan atau mengajar disebut wacana informatif (informative discourse).
  2. Tulisan yang bertujuan untuk meyakinkan atau mendesak disebut wacana persuasif (persuasive discourse).
  3. Tulisan yang bertujuan untuk menghibur dan menyenangkan atau yang mengandung tujuan estetik disebut tujuan literer (wacana kesastraan atau literary discourse).
  4. Tulisan yang mengekspresikan perasaan dan emosi yang kuat atau berapi-api disebut wacana ekspresif (expressive discourse).

Hugo Hartig dalam Tarigan (1983: 24) juga mengemukakan tujuan penulisan sesuatu tulisan yang dirangkumnya sebagai berikut:

  1. Assignment purpose (tujuan penugasan), Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali. Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri (misalnya para siswa yang ditugaskan merangkum buku; sekretaris yang ditugaskan membuat laporan, notulen rapat).
  2. Altruistic purpose (tujuan altruistik), Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahani, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu. Tujuan altruistik adalah kunci keterbacaan suatu tulisan.
  3. Persuasive purpose (tujuan persuasif), Tulisan yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan.
  4. Informational purpose (tujuan informasional, tujuan penerangan),  Tulisan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan/ penerangan kepada para pembaca.
  5. Self-expressive purpose (tujuan pernyataan diri), Tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca.
  6. Creative purpose (tujuan kreatif), Tulisan yang bertujuan mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai kesenian.
  7. Problem-solving purpose (tujuan pemecahan masalah), Sang penulis ingin tulisannya dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Sang penulis ingin menjelaskan, menjernihkan, menjelajahi, meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya sendiri agar dapat dimengerti dan diterima oleh para pembaca.

Selain tujuan, dalam sebuah kegiatan menulis pasti terdapat manfaat yang terselip didalamnya, seperti yang dikemukakan oleh Slamet (2008a:104), bahwa terdapat manfaat dari kegiatan menulis, yakni:

  • peningkatan kecerdasan,
  • pengembangan daya inisiatif dan kreativitas,
  • penumbuhan keberanian,
  • pendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.

Manfaat menulis juga dijelaskan oleh Hakim (2008: 27) bahwa, menulis bisa dijadikan profesi dan panggilan hidup, karena dari menulislah kita bisa hidup dan berbuat baik untuk kehidupan kemanusiaan. Menulis dapat membuat kita menyumbangkan ide dan gagasan untuk kebaikan umat manusia, kita bisa dikenal khalayak, ide-ide kita diperbincangkan, dan kita bisa juga mendapatkan penghasilan. Tentunya dalam kondisi seperti ini merupakan sebuah kepuasan rohani dan psikologis.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa menulis mempunyai tujuan yang beragam, diantaranya menulis dapat dijadikan sebagai alat komunikasi, sebagai sarana penghibur, alat untuk meluapkan emosi atau perasaan, dan mengajak atau membujuk seseorang.

Selain tujuan kegiatan menulis juga memiliki berbagai manfaat, yakni dapat mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas, banyak dikenal khalayak, menambah penghasilan, dan lain sebagainya.

Tahap-tahap menulis

Kegiatan menulis seseorang akan semakin mudah jika mengikuti tahapan-tahapan menulis yang tepat, seperti halnya yang disampaikan Andayani (2009: 29) berikut ini.

  1. Tahap Persiapan/ Prapenulisan, Tahap ini meliputi: menyiapkan diri, mengumpulkan informasi, merumuskan masalah, menentukan fokus, mengolah informasi, menarik tafsiran, refleksi terhadap realitas yang dihadapinya, berdiskusi, membaca, dan mengamati.
  2. Tahap Inkubasi, Tahap inkubasi adalah ketika pembelajar memproses informasi yang dimilikinya, sedemikian rupa sehingga mengantarkannya pada ditemukannya pemecahan masalah atau jalan keluar yang dicarinya.
  3. Tahap Inspirasi (Insight), Tahap inspirasi yaitu gagasan seakan-akan tiba dan berloncatan pada pikiran kita.
  4. Verifikasi, Pada tahap ini apa yang akan dituliskan akan diperiksa kembali, diseleksi, dan disusun sesuai fokus tulisan.

Sabarti dalam Andayani (2009: 30 – 31) menambahkan proses
menulis menjadi tujuh langkah, yaitu:

  1. Pemilihan dan Penetapan Topik, Memilih dan menetapkan topik merupakan suatu langkah awal yang penting, sebab tidak ada tulisan yang tanpa ada sesuatu yang hendak ditulis. Topik tulisan adalah gagasan yang hendak disampaikan dalam tulisan.
  2. Pengumpulan Informasi dan Data, Pengumpulan informasi dan data perlu dilakukan agar tulisan tersebut menjadi tulisan yang berbobot dan meyakinkan. Informasi dan data yang dikumpulkan adalah informasi dan data yang relevan dengan topik atau pokok bahasan dan sesuai pula dengan tujuan penulisan.
  3. Penetapan Tujuan, Menetapkan tujuan penulisan adalah hal penting yang harus dilakukan sebelum menulis, karena tujuan berpengaruh dalam menetapkan bentuk, panjang tulisan, dan cara penyajian tulisan.
  4. Perancangan Tulisan, Merancang tulisan diartikan sebagai suatu kegiatan menilai kembali informasi dan data, memilih sub topik yang perlu dimuat, melakukan pengelompokan topik-topik kecil ke dalam suatu kelompok yang lebih besar dan memilih suatu sistem notasi dan sistem penyajian secara tepat.
  5. Penulisan, Hasil penulisan perlu dipilih organisasi dan sistem penyajian yang tepat, artinya tepat menurut jenis tulisan, tepat menurut tujuan atau sasaran tulisan.
  6. Penyuntingan atau Revisi, Hasil tulisan selanjutnya disunting, dalam penyuntingan dilakukan kegiatan mengecek ketepatan angka-angka atau menghilangkan yang tidak perlu, menambahkan sesuatu yang perlu, perbaikan kalimat ejaan, maupun kosakata yang kurang tepat sehingga menjadi tulisan yang baik.
  7. Penulisan Naskah Jadi, Pada penulisan naskah jadi, masalah perwajahan harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh, karena kesempurnaan tulisan tidak hanya terbatas pada kesempurnaan isi dan ketepatan pemakaian perangkat kebahasaan tetapi juga masalah susunan.

Berdasarkan penjelasan para ahli di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa tahapan menulis dimulai dari tahap persiapan, pemilihan topik atau
tema yang akan ditulis, pengumpulan data atau informasi, penetapan tujuan,
perancangan tulisan, penulisan, tahap verikasi, dan penulisan naskah jadi.

Pengertian teks negosiasi

Lewicki, Barry, & Saunders (2013: 3) mengartikan negosiasi sebagai bentuk pengambilan keputusan dimana dua pihak atau lebih berbicara satu sama lain dalam upaya untuk menyelesaikan kepentingan perdebatan mereka.

Negosiasi terjadi untuk beberapa alasan:

  • menyetujui bagaimana cara membagi sebuah sumber yang terbatas, seperti tanah, properti, atau waktu;
  • menciptakan sesuatu yang baru dimana kedua belah pihak akan melakukannya dengan cara mereka sendiri, atau
  • menyelesaikan masalah atau perselisihan antara kedua belah pihak.

Walgito (2008: 155) berpendapat bahwa negosiasi adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang, yang mempunyai bagian dalam konflik (opposed), ingin mencapai kesepakatan (agreement), dan mencoba mencapai penyelesaian.

Pengertian negosiasi yang lain adalah sebuah proses yang terjadi antara dua pihak atau lebih, yang pada mulanya memiliki pemikiran berbeda hingga akhirnya mencapai kesepakatan (Jackman, 2004: 8).

Pendapat lain dikemukakan oleh Lomas (2008: 1) bahwa negosiasi adalah sebuah komunikasi dimana pihak-pihak mencari kesepakatan untuk mengadakan pertukaran diantara mereka.

Negosiasi juga dimaksudkan untuk memberi manfaat bagi setiap pihak melalui kesepakatan pertukaran. Sementara itu, negosiasi juga dapat diartikan sebagai penggunaan informasi dan kekuatan untuk mempengaruhi sikap dalam suatu “jaringan ketegangan” (
Cohen, 1992: 14).

Jika Anda pikirkan definisi yang luas ini, akan Anda sadari bahwa sebenarnya Anda memang bernegosiasi sepanjang waktu, baik dalam pekerjaan Anda maupun dalam kehidupan pribadi Anda.

Berbeda dengan beberapa pendapat di atas, Pragolapati (2011: 5)
menyatakan bahwa: Negosiasi adalah sesuatu yang kita lakukan setiap saat tanpa kita sadari dan terjadi hampir di setiap aspek kehidupan kita dan merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengatasi dan menyelesaikan konflik atau perbedaan kepentingan.

Negosiasi merupakan cara yang lebih baik dalam mencari solusi dibanding dengan sebuah pengadilan ataupun kekerasan. Untuk mendapatkan solusi terbaik, negosiasi dilakukan dengan menjalin hubungan yang baik dan dengan professional.

Hal penting yang harus ada dalam negosiasi adalah

  • Integrative Bargaining Strategy, yaitu pada saat pihak negosiator yakin bahwa win-win solution dapat tercapai, tujuannya adalah menghasilkan satu atau lebih solusi yang baik dan dapat diterima oleh kedua pihak;
  • Distributive Bargaining Strategy, pendekatan ini biasanya menghasilkan win-lose situation. pendekatan ini hanya dapat dilakukan pada saat kondisi genting, dimana hubungan yang baik dianggap tidak penting dibandingkan masalah yang dihadapi ( Pragolapati, 2011: 10-11).

Hal senada juga dikemukakan oleh Thorn (1995: 8) bahwa negosiasi
menyangkut pemecahan konflik antara dua pihak atau lebih, biasanya melalui pertukaran konsesi. Sebuah negosiasi bisa kompetitif, yaitu dikenal sebagai win-lose negotiation (negosiasi kalah menang) atau bisa juga kooperatif, yaitu dikenal sebagai win-win negotiation (negosiasi menag-menang). Negosiasi harus dipandang sebagai kegiatan yang potensial dan bermanfaat untuk kedua belah pihak. Negosiasi bukan hanya pelancar bagi kegiatan perdagangan, melainkan juga bagi interaksi sosial yang lain.

Proses atau tahapan dalam negosiasi juga disampaikan oleh Jackman (2004: 20) sebagai berikut:

  1. ersiapan, meliputi penelitian, perencanaan strategi dan taktik negosiasi;
  2. Memulai negosiasi, memberitahukan fakta mengenai berbagai posisi dan kepentingan yang berbeda;
  3. Memimpin negosiasi, meliputi pembahasan posisi, berbagai penawaran, identifikasi keuntungan dan konsesi, serta usaha menemukan kesamaan;
  4. Bergerak menuju kesepakatan;
  5. Mencapai kesepakatan, mengakhiri negosiasi dan mencatat kesepakatan yang telah tercapai;
  6. Menindaklanjuti hasil negosiasi.

Sementara itu, Lewicki, Barry, & Saunders (2013 : 277-287) mengemukakan berbagai praktik-praktik terbaik dalam negosiasi sebagai berikut:

  1. Lakukan persiapan, Persiapan tidak harus menjadi aktivitas yang memakan waktu dan merepotkan, tetapi harus menjadi prioritas sebagai negosiator. Negosiator yang melakukan persiapan dengan lebih baik akan memiliki banyak keuntungan, termasuk kemampuan menganalisis penawaran pihak lain secara lebih efektif dan efesien, memahami tingkat proses pembuatan konsesi, dan mencapai tujuan negosiasi.
  2. Mendiagnosis struktur negosiasi fundamental, Negosiator harus dengan sadar memutuskan apakah mereka menghadapi negosiasi distributif, negosiasi integratif, atau campuran keduanya, dan memilih strategi dan taktik yang sesuai. Menggunakan taktik dan strategi yang tidak sesuai akan memberikan hasil-hasil negosiasi yang tidak optimal. Negosiator andal akan mengidentifikasi situasi-situasi ini dan mengadopsi strategi dan taktik yang tepat.
  3. Mengidentifikasi dan mencari BATNA Salah satu sumber kekuatan yang penting dalam negosiasi adalah alternatif yang tersedia bagi seorang negosiator jika kesepakatan tidak tercapai. Satu alternatif, alternatif terbaik terhadap kesepakatan yang dinegosiasikan (BATNA), sangat penting karena ini adalah pilihan yang akan diambil jika kesepakatan tidak tercapai. Negosiator tanpa BATNA yang kuat akan kesulitan dalam mencapai kesepakatan yang baik karena pihak lain akan mencoba untuk mendorong mereka secara agresif, dan oleh karena itu mereka akan terpaksa menerima kesepakatan yang kemudian dirasa mengecewakan.
  4. Memiliki kemauan untuk meninggalkan negosiasi, Tujuan sebagian besar negosiasi adalah mencapai hasil yang bernilai, pada dasarnya bukan untuk mencapai kesepakatan. Negosiator andal tahu akan hal ini dan mau meninggalkan negosiasi ketika tidak terdapat kesepakatan yang lebih baik atau ketika proses negosiasi sangat ofensif, sehingga kesepakatan itu tidak layak untuk diupayakan.
  5. Menguasai paradoks negosiasi utama, Tantangan bagi negosiator dalam menghadapi paradoks ini adalah mengupayakan keseimbangan dalam situasi-situasi sebagai berikut; mengklaim nilai versus menciptakan nilai, mempertahankan prinsip versus fleksibel terhadap aliran, mempertahankan strategi versus mengejar pilihan baru yang bersifat oportunis, jujur dan terbuka versus tertutup dan tidak transparan, serta kepercayaan versus ketidakpercayaan.
  6. Mengingat hal-hal yang tidak berwujud, Hal-hal yang tidak berwujud adalah faktor psikologis yang memotivasi negosiator dan meliputi menang, menghindari kerugian, terlihat kuat bagi orang lain, tidak terlihat lemah, menjadi orang yang adil, dan lain-lain.
  7. Mengelola koalisi secara aktif, Koalisi dapat memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap proses dan hasil negosiasi. Negosiator harus mengetahui tiga jenis koalisi dan dampak potensialnya: (1) koalisi yang melawan Anda; (2) koalisi yang mendukung Anda; dan (3) koalisi bebas yang tidak terdefinisikan yang mungkin mendukung atau melawan Anda. Negosiator andal harus menilai keberadaan dan kekuatan koalisi dan berusaha untuk menangkap kekuatan koalisi yang menguntungkan baginya.
  8. Nikmati dan lindungi reputasi Anda, Reputasi seperti telur-rapuh, penting untuk dibangun, mudah pecah, dan sangat sulit untuk dibangun kembali ketika rusak. Memulai negosiasi dengan reputasi positif sangatlah penting, dan negosiator harus waspada dalam melindungi reputasinya.
  9. Ingat bahwa rasionalitas dan keadilan bersifat relatif
  10. Terus belajar dari pengalaman Anda, Negosiasi melambangkan ungkapan belajar sepanjang hayat. Negosiator terbaik terus belajar dari pengalaman, mereka tahu terdapat banyak variabel dan nuansa berbeda ketika bernegosiasi, karena tidak ada ada dua negosiasi yang benar-benar identik.

Dijelaskan dalam Kemendikbud (2013: 184) bahwa jenis teks yang secara umum dikenal adalah deskripsi, laporan, prosedur, penceritaan, eksplanasi, eksposisi, diskusi, surat, editorial, iklan, negosiasi, anekdot, naratif, eksemplum, dan lain-lain. Jenis teks tersebut mempunyai struktur teks yang berbeda dan memanfaatkan bentuk-bentuk bahasa yang berbeda (misalnya, jenis verba, konjungsi, partisipan, dan kelompok kata). Struktur teks dan bentuk-bentuk bahasa itu menjadi ciri yang menandai teks-teks tersebut.

Sementara itu, Mahsun (2014: 18-22) mengemukakan jenis teks berdasarkan genrenya, yaitu sastra/penceritaan, faktual, dan tanggapan. Menurut Mahsun teks negosiasi termasuk dalam genre teks tanggapan denganm tujuan sosial mengasosiasikan hubungan, informasi barang dan layanan, dengan struktur teks negosiasi mencakup orientasi, pengajuan, penawaran, persetujuan, dan penutup.

Teks negosiasi adalah teks yang mengandung unsur negosiasi, teks negosiasi juga mengunakan bahasa persuasif dalam pelaksanaannya (Kemendikbud, 2013: 183). Dijelaskan dalam Kemendikbud (2013: 135-136) bahwa struktur teks negosiasi terdiri dari struktur umum dan struktur kompleks. Struktur umum teks negosiasi meliputi tiga hal yang membentuknya, yakni pembukaan, isi, dan penutup. Pembuka berisi tentang salam, perkenalan diri (bila perlu), dan menyampaikan maksud yang ingin disampaikan dalam negosiasi secara garis besar. Isi merupakan pokok-pokok yang ingin disampaikan dalam rundingan negosiasi. Penutup berisi keputusan atau kesepakatan dan juga salam penutup. Sementara itu, struktur kompleks teks negosiasi meliputi orientasi, permintaan, pemenuhan, penawaran, persetujuan, pembelian, dan penutup.

Struktur kompleks ini biasanya untuk teks negosiasi antara penjual dan pembeli. Orientasi, berupa salam, maksud, dan tujuan mengadakan jual beli. Permintaan disampaikan oleh pembeli kepada penjual. Pemenuhan merupakan kesepakatan atas produk sesuai dengan kriteria pembeli atau tidak. Penawaran adalah negosiasi tentang nilai barang, membuat kesepakatan yang sama antara penawaran penjual dan pembeli. Persetujuan adalah kesepakatan yang dicapai antara penjual dan pembeli. Pembelian merupakan kegiatan dimana barang yang ada pada penjual menjadi hak milik pembeli dengan menukar nilai tertentu. Penutup biasanya berupa ucapan terimakasih dan pesan kepuasan. Berdasarkan beberapa uraian di atas, dapat disintesiskan bahwa teks negosiasi merupakan suatu teks yang bertujuan untuk mengasosiasikan hubungan dalam bentuk interaksi sosial antara dua orang atau lebih untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama dimana kesepakatan tersebut adalah kesepakatan terbaik untuk kedua belah pihak (menguntungkan kedua belah pihak). Sementara itu, struktur yang membangun teks negosiasi terbagi menjadi dua, yaitu struktur umum dan struktur kompleks.

Referensi :

Rizky Alfiani:2015, Hubungan antara penguasaan kosakata dan motivasi menulis dengan kemampuan menulis teks negosiasi pada siswa kelas x smk negeri 3 Surakarta tahun pelajaran 2014/2015

Teks Negosiasi: Teori Menulis Teks Negosiasi | Angga Prasetya | 4.5