Pengertian Ciri-Ciri Struktur Contoh Teks Eksposisi

Pengertian Teks Eksposisi

Memproduksi teks eksposisi yang koheren sesuai dengan karakteristik teks yang akan dibuat baik secara lisan/tulisan. Eksposisi merupakan teks yang memaparkan informasi dan dilengkapi argumentasi yang didasarkan pada fakta. Seperti pendapat Semi (dalam Kusumaningsih, dkk. 2013: 80) eksposisi adalah tulisan yang bertujuan menjelaskan atau memberikan informasi tentang sesuatu. Eksposisi biasanya dikembangkan dengan susunan logis dengan pola pengembangan gagasan seperti definisi, klasifikasi, ilustrasi, perbandingan, pertentangan, dan analisis fungsional.

Struktur Teks Eksposisi

Teks eksposisi terwujud dalam berbagai bentuk di berbagai media, namun kita tidak pernah menyadari bentuk teks eksposisi. Eksposisi dapat berbentuk sebagai artikel, wacana, berita, dan laporan.Untuk itu, perlu mengetahui ciri khusus yang menjadi penanda bahwa teks tersebut merupakan teks eksposisi. Murtono (2010:37) berpendapat bahwa “eksposisi adalah jenis tulisan atau penuturan yang mengemukakan pendapat atau gagasan mengenai suatu fakta, gejala, atau kejadian yang dengan jelas, yang seringkali juga berlebihan jelasnya.” Untuk memperjelas apa yang dikemukakan tersebut biasanya disertai dengan alat penjelas, misalnya: grafik, statistik, denah, peta dan sebagainya. Ciri utama teks eksposisi adalah terdapat pendapat penulis yang disertai oleh fakta yang valid sehingga paparanya bersifat informatif.

Anda Juga Ingin Membaca: Teks Negosiasi

Pendapat yang sama dikemukakan oleh (Keraf, 1995: 7) bahwa “Eksposisi adalah suatu wacana yang berusaha menguraikan suatu obyek sehingga memeperluas pandangan atau pengetahuan pembaca”. Sifat eksposisi yang informatif dapat menambah wawasan bagi pembacanya. Selain itu, teks eksposisi merupakan teks yang memuat pendapat penulis beserta fakta yang mendasari sehingga menulis teks eksposisi layak untuk dipelajari. Usaha untuk mengasah keterampilan menulis teks eksposisi dapat dilakukan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas X semester pertama pada Kurikulum 2013.

Lebih lanjut Parera (1987:05) berpendapat bahwa eksposisi bertujuan untuk memberikan informasi. Pengarang dan penulis berusaha memaparkan kejadian atau masalah agar pembaca dan pendengar memahaminya dan pengarang mempunyai sejumlah data dan bukti sehingga, ia berusaha menjelaskan persoalan dan kejadian ini demi kepentingan anda sendiri.

Keterampilan menulis teks eksposisi memang tidaklah serta-merta ada begitu saja tanpa adanya latihan. Keterampilan menulis teks eksposisi perlu dikembangkan sehingga akan meningkatkan kualitas hasil teks eksposisi yang adapun hasil penelitian yang menunjukan terdapat beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan menulis teks eksposisi siswa adalah penelitian Dymok dan Nicholson tahun 2010 dengan judul “High 5! Strategies to Enhance Comprehension of Expository Text“.Penelitian tesebut memaparkan lima cara meningkatkan pemahaman mengenai teks eksposisi. Lima cara tersebut, yaitu:

1. Activating background knowledge
Pada tahap Activating background knowledge guru hendaknya memberikan sebuah gambaran mengenai suatu hal yang akan di tuliskan atau dibaca dalam teks eskposisi. “Activating relevant background knowledge helps readers make connections between what they know and what they are reading.” (Dymok dan Nicolson 2010: 167).

Mengaktifkan pengetahuan dasar mengenai materi yang akan dibahas menolong siswa mampu menghubungkan antara apa yang mereka tahu dengan apa yang mereka baca. Sebagai contoh, ketika guru mampu memberi pemahaman pada siswa mengenai planet Mars dan Jupiter maka siswa akan terbantu untuk memahami sebuah teks yang membahas mengenai sistem tata surya. Untuk itu guru dituntut memiliki wawasan yang luas agar mampu memeberikan pemahaman pada siswa mengenai sesuatu yang bersifat informatif dan inovatif.

2. Questioning
Pada tahap Questioning guru hendaknya mampu mendorong siswa membuat sebuah pertanyaan mengenai teks eksposisi yang disajikan oleh guru baik mengenai fakta dalam substansi teks maupun pesan yang terkandung secara implisit pada teks seperti pendapat Dymok dan Nicolson (2010: 167) “Prior to reading, good readers also ask themselves questions that activate background knowledge.“. Dengan begitu siswa menerima banyak kesempatan untuk memahami teks eksposisi melalui pemaparan fakta serta tujuan implisit yang terkandung di dalam teks eskposisi.

3. Analyzing Text Structure
Pada tahap Analyzing text structure siswa diminta menandai kata kunci yang mencirikan setiap bagian struktur teks eksposisi. Dymok dan Nicolson (2010: 168) “Text structure awareness, or the ability to analyze text in terms of its structure, is a mental awareness of how writers organize information“. Siswa hendaknya menandai ciri setiap bagian struktur teks. Struktur thesis yang berarti gambaran awal ditandai dengan adanya kalimat fakta; agrumentasi, yakni berisi pendapat penulis yang didasarkan fakta sebuah pokok bahasan ditandai dengan kalimat opini, dan penegasan ulang pendapat, yakni penulisan kembali alasan penulis mengenai suatu hal.

4. Creating Mental Images
Pada tahap Creating Mental Images siswa diminta menggamparkan alur point penting sebuah teks eksposisi dari awal hingga akhir. “Creating a mental image of the text being read (or being able to visualize how texts are structured) enhances” (Dymok dan Nicolson 2010: 171). Siswa mampu memahami teks eksposisi dengan baik bila siswa mampu melihat gambaran struktur teks mulai dari gambaran awal, argumentasi penulsi, hingga penegasan ulang pendapat.

5. Summarizing
Tahap terakhir adalah summarizing, pada tahap ini siswa diminta untuk merangkum gagasan pokok yang terdapat pada teks eksposisi. “Knowing how to summarize the main ideas has a positive impact on comprehension (Calfee & Patrick, 1995; NICHD, 2000). To most of us, a summary is concise and gives only the main points. Research shows that the ability to summarize a text can enhance comprehension (Dymok dan Nicolson 2010: 171).

Melalui lima cara tersebut siswa diharapakan mampu meningkatkan pemahaman terhadap teks eksposisi. Dengan demikian, dapat disintesiskan bahwa keterampilan menulis teks eksposisi merupakan variabel yang didapat dengan terus berlatih mengingat keterampilan menulis teks kesposisi merupakan kecakapan menuangkan gagasan berupa paparan informasi baru disertai dengan pendapat yang didasarkan pada fakta yang valid (eksposisi) dalam sebuah media yang dimiliki pengarang melalui suatu bahasa, dengan tidak mengabaikan aspek-aspek kebahasaan yang baik dan benar agar dapat dipahami pembaca gagasan. Keterampilan menulis teks eksposisi merupakan variabel yang dapat ditingkatkan beberapa melalui cara seperti diatas sehingga dapat dihipotesiskan bahwa peningkatan keterampilan teks eksposisi bukan tidak mungkin dilakukan melalui variabel kontrol, seperti penguasaan kalimat efektif dan keaktifan siswa.

Ciri-ciri Teks Eksposisi

Setiap teks memiliki ciri yang membedakan antara satu teks dengan yang lain. Ciri teks eksposisi yang mendasar yakni bersifat informatif dan mengandung pendapat penulis yang didasarkan pada fakta. Seperti pendapat Semi (dalam Kusumaningsih, dkk 2013: 80)

Ciri penanda eksposisi sebagai berikut:
(1) berupa tulisan yang memberikan pengertian dan pengetahuan,
(2) menjawab pertanyaan tentang apa, mengapa, kapan, bagaimana,
(3) disampaikan dengan lugas dengan bahasa baku,
(4) menggunakan nada netral, tidak memihak, dan memaksakan sikap penulis kepada pembaca.

Sejalan dengan hal tersebut, (Dawud, dkk. 2004: 233) mengemukakan bahwa “Ciri menonjol dari sebuah teks eksposisi umumnya menjawab pertanyaan apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana”. Berita di surat kabar dapat dikatakan sebagai contoh sebagian besar karangan eksposisi. Tulisan paparan menggugah pikiran tanpa bermaksud menggugah perasaan atau memengaruhi sikap pembaca. (Dawud dkk, 2004: 233) mengemukakan bahwa ada beberapa bentuk dasar pemaparan, yaitu:

  1. Definisi, bentuk pemaparan ini dianggap paling ilmiah. Sebab merupakan dasar bagi semua wacana yang sifatnya menjelaskan.
  2. Analisis, yaitu proses memisah atau memecah keseluruhan ke dalam bagian-bagiannya.
  3. Perbandingan dan pertentangan, yang bertujuan menyajikan informasi mengenai suatu hal yang sudah dikenal. Tujuan lainnya yaitu mungkin ingin menjelaskan dua hal dan melaksanakannya dengan jalan menghubungkan keduanya dengan beberapa prinsip umum (teori) yang seharusnya dapat berlaku terhadap keduanya dan dapat dianggap sudah dikenal oleh penganggap.
  4. Ilustrasi (contoh), wacana eksposisi yang memaparkan suatu permasalahan pada sebuah pernggambaran sehingga pembaca mudah mengasosiasikan maksud penulis melalui penggambaran tersebut.

Lebih lanjut ciri teks eksposisi menurut Alwasilah (2005:111) bahwa dalam pokoknya eksposisi merupakan tulisan yang tujuan utamanya mengklarifikasi, menjelaskan, mendidik, atau mengevaluasi sebuah persoalan.Penulis berniat untuk memberi informasi atau memberi petunjuk pada pembaca. Alwasilah (2005:111) mengemukakan bahwa eksposisi mengandalkan strategi pengembangan alinea seperti lewat pemerincian, proses, sebab akibat, klarifikasi, definisi, analisis, komperasi, dan kontras.

Hal yang harus terkandung dalam teks eksposisi dan jika ada pertanyaan sebutkan ciri-ciri teks eksposisi!, maka jawabannya adalah, Hasani (2005:30) menambahkan bahwa ciri teks eksposisi, antara lain:

  1. penjelasanya bersifat informatif;
  2. pembahasan masalahnya bersifat objektif;
  3. penjelasanya disertakan bukti-bukti yang konkret;
  4. pembahasanya bersifat logis atau sesuai penalaran;
  5. data faktual, misalnya tentang suatu kondisi yang benar-benar terjadi atau historis;
  6. suatu analisis yang bersifat objektif terdapat seperangkat fakta.

Dengan demikian, dapat disintesiskan bahwa ciri teks teksposisi, yakni harus memaparkan informasi terkait apa, siapa, dimana, mengapa dan bagaimana dalam suatu hal yang mengandung fakta dengan penyajian menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah.

Struktur Teks Eksposisi

Sebuah eksposisi biasanya diwarnai oleh sifat topik yang digarap dan teknik penyajian yang digunakan. Keterampilan penulis memadukan kedua unsur itu dengan jalinan bahasa yang baik dan lancar akan memadai kualitas sebuah eksposisi. Walaupun demikian, Keraf (1995:8) berpendapat bahwa “Sebagai bentuk tulisan yang paling umum digarap, eksposisi tetap mengandung tiga bagian utama, yaitu sebuah pendahuuan, Tubuh eksposisi, dan kesimpulan”.Pada bagian pendahuluan di dalamnya menyajikan latar belakang, alasan memilih topik, pentingnya topik, luas lingkup, batasan pengertian topik, permasalahan dan tujuan penulisan, kerangka acuan yang digunakan.Selanjutnya pada bagian tubuh eksposisi meliputi pengembangan organisasi atau kerangka karangan, penyajian uraian tiap bagian secara terperinci. Pada bagian kesimpulan mengenai apa yang disajikan dalam isi teks eksposisi. Sesuai dengan sifat eksposisi, apa yang disimpulkan tidak mengarah kepada usaha mempengaruhi pembaca. Inilah jawaban untuk pertanyaan yang sering muncul tentang tuliskan struktur teks eksposisi!.

Hal ini berbeda dengan yang ditulis dalam Kemendikbud (2013: 84), struktur teks eksposisi terbagi menjadi tiga, yaitu

  1. tesis (pernyataan pendapat),
  2. argumentasi (alasan yang digunakan untuk mempertahankan pendapat),
  3. penegasan ulang pendapat.

Seiring bertembahnya pengembangan paragraf jenis teks semakin beragam pula.Untuk teks eksposisis saja terdapat beberapa jenis berdasarkan struktur teks eksposisi. Sejalan dengan pendapat Dymock dan Nicholson (2010: 168) yang berpendapat bahwa “Exposition has many types of structures, and some are complex. The use of design sketches to capture the structure helps hugely in terms of comprehension (Calfee & Patrick, 1995; Dymock, 2009; Dymock & Nicholson, 2007). Capturing the design of the text in the mind as soon as possible is part of text structure awareness. Teachers need to teach each type of expository text structure (e.g., cause–effect, description, problem–solution), so students can internalize all of the structures.Namun begitu, perbedaan struktur tiap tipe paragraf eksposisi tidak signifikan sehingga masih menonjolkan ciri khas teks eksposisi yang mengandung argumentasi penulis yang di dasarkan fakta.Penjabaran materi dalam teks eksposisi juga bersifat informatif.

Pendapat Keraf (1995) memaparkan bahwa struktur teks eksposisi seperti umunya teks lain yang berisi pendahuluan, initi (tubuh), serta penutup teks (kesimpulan) memang tepat namun belum terspesifikasi pada ciri teks eksposisi sehingga belum dapat membedakan struktur teks eksposisi dengan teks lain. Pelu diperinci secara jelas dan lagi setiap bagian struktur untuk dapat menunjukan perbedaan struktur teks eksposisi dengan yang lain. Pendapat Kemendikbud (2014)─Tesis, argumentasi, penegasan pendapat, dapat melengkapi pengertian struktur teks eksposisi secara tradisional.

Meskipun eksposisi memiliki banyak tipe, siswa tidak akan kesulitan memahami karena pemahaman struktur yang tepat bahwa siswa telah tahu ciri penting teks eksposisi atau hal yang harus terkandung dalam teks eksposisi yaitu memaparkan hal baru dan terdapat pendapat penulis (argumentasi).

Seperti pendapat Dymock (2010) bahwa teks eksposisi sangatlah beragam tergantung tipe teks.Dengan memahami ciri khusus teks eksposisi tersebut dapat memudahkan dalam menganalisis struktur eksposisi.

Contoh-Contoh Teks Eksposisi

Ini adalah contoh Teks Eksposisi tentang kemacetan lalu lintas:

Di banyak kota besar, kemacetan lalu lintas di jalan raya menjadi persoalan yang pelik. Sebenarnya ini merupakan kenyataan yang tidak aneh. Meskipun demikian, kemacetan lalu lintas merupakan keadaan yang menjengkelkan kita sebagai pengguna jalan.

Jika diperhatikan, pada waktu-waktu tertentu lalu lintas di jalan-jalan tampak macet. Pada pagi hari kemacetan lalu lintas mulai terasa ketika warga masyarakat mulai berangkat ke tempat mereka bekerja dan para pelajar mulai berangkat ke sekolah. Pada siang hari kemacetan lalu lintas semakin menjadi-jadi karena jumlah kendaran yang melewati jalan raya semakin banyak. Sedangkan pada sore hari kemacetan lalu lintas mulai agak menurun.

Banyak hal yang menjadi penyebab kemacetan lalu lintas. Pertama, adanya persilangan dengan jalan kereta api. Kedua, semakin banyak kendaraan yang berlalu lalang di alan-jalan. Ketiga, banyak jalan digunakan sebagai parkir kendaraan dan sebagai tempat para pedagang kaki lima berjualan. Keempat, sering terjadi lampu lalu lintas mati. Kelima, sikap kurang terpuji para pengemudi, seperti memberhentikan kendaraannya tidak pada tempatnya dan saling mendahului dengan kendaraan lain.

Terakhir, polisi lalu lintas tidak tampak di tempat tugasnya, sehingga tidak ada yang mengetur lalu lintas di jalan raya. Dengan demikian akibat kemacetan lalu lintas pun muncul, seperti waktu yang terbuang percuma di perjalanan. Selain itu, pemakaian bahan bakar juga semakin boros. Kemacetan lalu lintas juga dapat menyebabkan polusi udara dan suara. Bahkan, dapat mengakibatkan stress yang meyerang kesehatan rohani kita.

referensi:

Dinari Oktaria, Hubungan Antara Penguasaan Kalimat Efektif…..

Pengertian Ciri-Ciri Struktur Contoh Teks Eksposisi | Angga Prasetya | 4.5