Mengajar: Teori Tentang Mengajar

Pengertian Mengajar

Setiap guru seharusnya dapat mengajar di depan kelas. Bahkan mengajar itu dapat dilakukan pula pada sekelompok siswa di luar kelas atau di mana saja. Mengajar adalah merupakan salah satu komponen dari kompetensi – kompetensi guru. Dan setiap guru harus menguasainya serta terampil melaksanakan mengajar itu.

Masalah mengajar telah menjadi persoalan para ahli pendidikan sejak dahulu sampai sekarang. Pengertian mengajar mengalami perkembangan, bahkan hingga dewasa ini belum ada definisi yang tepat bagi semua pihak mengenai mengajar.

Joyce, Weil & Shower (1992) menyatakan bahwa “mengajar (teaching) pada hakikatnya adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara – cara belajar bagaimana belajar”. (DEPDIKNAS, 2003: 4).

Teori Mengajar

“Mengajar adalah proses membimbing kegiatan belajar dan kegiatan mengajar hanya bermakna bila terjadi kegiatan belajar siswa itu”. (Oemar Hamalik, 2003: 36).

Berdasarkan pernyataan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah proses membimbing kegiatan belajar mengajar siswa yang meliputi membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara – cara belajar bagaimana belajar.

Mengajar merupakan suatu kegiatan menyampaikan pesan berupa
pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap-sikap tertentu dari guru kepada peserta didik. Sebenarnya kegiatan mengajar bukan sekedar menyangkut persoalan penyampaian pesan-pesan dari seorang guru kepada peserta didik, tetapi menyangkut persoalan guru membimbing dan melatih peserta didik untuk belajar.

Definisi tentang mengajar dikemukakan oleh Slameto (1995: 30)
mengutip dari pakar negara-negara maju yang mengemukakan bahwa “Mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar”. Pengertian ini menunjukan bahwa yang aktif adalah siswa yang mengalami proses belajar. Sedangkan guru membimbing, menunjukkan jalan dengan cara memperhitungkan kepribadian siswa.

Mulyani Sumantri dan Johar Permana mengutip dari T.Raka Joni tentang pengertian mengajar sebagai pencipta dan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar (2001: 21). Sedangkan menurut Nana Sudjana (1996: 7) “Mengajar adalah membimbing kegiatan siswa belajar, mengatur, dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan belajar”.

Menurut pengertian ini dapat dilihat bahwa mengajar sebagai proses, yaitu proses yang dilakukan oleh guru dalam menumbuhkan kegiatan belajar siswa. Dengan perkataan lain, hasil proses mengajar adalah kegiatan belajar siswa.

Nana Sudjana (2002:29) mengemukakan bahwa “Mengajar adalah suatu proses, yakni proses mengatur, mengorganisasi, lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa, melakukan proses belajar”.

Sardiman AM (2001:47) menyatakan bahwa “Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar”.

Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberikan kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. (A. Tabrani Rusyan, 1989: 7).

Teori – teori mengajar

Adapun teori – teori mengajar yaitu:

  1. Definisi lama “mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman – pengalaman dan kecakapan kepada anak didik kita, atau mewariskan kebudayaan masyarakat pada generasi berikut sebagai generasi penerus”. Dalam hal ini tampak sekali bahwa aktivitas terletak pada guru. Siswa hanya mendengarkan dan menerima saja apa yang diberikan guru.
  2. Definisi De Queliy dan Gazali “mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat”. Dalam hal ini pengertian waktu yang singkat sangat penting. Guru kurang memperhatikan bahwa di antara siswa ada perbedaan individual, sehingga memerlukan pelayanan yang berbeda – beda.
  3. Definisi modern di negara – negara yang sudah maju (Teaching is the guidance of learning) “mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar”. Definisi ini menunjukkan bahwa yang aktif adalah siswa, yang mengalami proses belajar. Sedangkan guru hanya membimbing, menunjukkan jalan dengan memperhitungkan kepribadian siswa. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berfikir lebih banyak diberikan pada siswa. (Slameto, 2003: 29 – 30)

Berdasarkan pernyataan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah bimbingan yang diberikan pada siswa berupa pengetahuan, pengalaman-pengalaman dan kecakapan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan mengajar.

Prinsip-prinsip Mengajar

Guru harus berhadapan dengan sekelompok manusia yang memerlukan bimbingan dan pembinaan untuk menuju kedewasaan, sehingga sadar akan tanggung jawab masing-masing. Karena tugas guru yang berat tersebut, maka guru harus mempunyai prinsip-prinsip mengajar seperti yang dikemukakan oleh Slameto (1995: 35-39) sebagai berikut :

  1. Perhatian, Waktu mengajar guru harus dapat membangkitkan perhatian siswa pada pelajaran yang diberikan sehingga pelajaran tersebut dapat diterima, dihayati dan diolah siswa sehingga menimbulkan pengertian dari diri siswa.
  2. Aktivitas, Guru perlu menumbuhkan aktivitas siswa baik aktivitas berpikir maupun berbuat dalam proses belajar mengajar.
  3. Appersepsi, Setiap guru dalam mengajar perlu mengembangkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa ataupun pengalamannya.
  4. Peragaan, Guru harus menggunakan bermacam-macam media dalam penyampaian materinya. Hal ini ditujukan agar siswa tidak merasa bosan, dan lebih terangsang dalam berpikir dalam rangka membentuk struktur kognitif dalam jiwa siswa.
  5. Repetisi, Guru perlu mengulang-ulang pelajaran dalam menjelaskan suatu unit pelajaran, karena pelajaran yang sering diulang akan memberikan tanggapan yang jelas dan tidak akan mudah dilupakan.
  6. Korelasi, Guru harus memperhatikan hubungan antar setiap mata pelajaran dalam mengajar sehingga dapat memperluas pengetahuan siswa.
  7. Konsentrasi, Guru harus konsentrasi dalam berbagai situasi yang dijumpainya selama mengajar sehingga proses belajar mengajar tidak menyimpang.
  8. Sosialisasi, Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk melaksanakan kegiatan bersama walaupun berada di dalam kelas maupun di luar kelas dalam menerima pelajaran, karena bekerja di alam kelompok dapat meningkatkan cara berpikir siswa untuk memecahkan masalah secara baik.
  9. Individualisasi, Siswa merupakan makhluk yang unik, yang mempunyai perbedaan yang khas antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini guru dituntut untuk dapat mendalami perbedaan tersebut sehingga dapat melayani pendidikan tanpa menyimpang dari tujuan.
  10. Evaluasi, Semua kegiatan belajar mengajar perlu evaluasi, dengan begitu baik siswa maupun guru dapat termotivasi untuk meningktkan peran aktifnya guna keberhasilan proses belajar mengajar.

Guru diharapkan dapat memahami dan menjalankan dengan baik
kesepuluh prinsip di atas agar dalam proses mengajar dapat membangkitkan minat siswa guna meningkatkan prestasi belajarnya.

Disamping itu guru perlu membangkitkan siswa agar belajar dengan perasaan senang, karena belajar akan efektif jika dilakukan pada kondisi senang. Guru harus memulai dari apa yang telah diketahui sebelumnya, sehingga diharapkan siswa mempunyai pemahamanyang baik karena yang mereka pelajari adalah hal-hal yang telah ada pada mereka.

Atau secara singkat dapat dinyatakan bahwa dalam mengajar perlu
memperhatikan prinsip-prinsip mengajar. Kegiatan mengajar merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya interaksi antara siswa dengan guru dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini dilakukan sedemikian rupa agar membantu perkembangan siswa secara optimal, baik perkembangan fisik, maupun mental sehingga yang berperan aktif dalam proses belajar mengajar adalah siswa itu sendiri dan guru hanya fasilitator dan pembimbing siswa dalam proses belajar mengajar.

Mursel mengemukakan prinsip – prinsip mengajar menjadi 6 yaitu:

Konteks, Tugas hendaknya dinyatakan dalam kerangka suatu konteks, dengan sifatnya yang konkret, dapat ditiru dan dilaksanakan dengan teratur yang dapat memberikan kemungkinan seluas – luasnya untuk bereksperimentasi, berekplorasi dan menentukan serta yang mengarah pada penguasaan melalui pengertian dan pemahaman, serta yang memungkinkan transfer.

Ciri – ciri konteks yang baik yaitu:

    • Dapat membuat pelajar menjadi lawan berinteraksi secara dinamis dan kuat sekali.
    • Terdiri dari pengalaman yang aktual dan konkret.
    • Pengalaman konkret yang dinamis merupakan alat untuk menyusun pengertian yang bersifat sederhana sehingga pengalaman itu dapat ditiru untuk diulangi.

Fokus
Dalam proses belajar perlu diorganisasikan bahan yang penting. Belajar yang penuh makna dan efektif harus diorganisasikan di suatu fokus.

Ciri – ciri fokus yang baik yaitu:

  • memobilasi tujuan
  • Memberi bentuk dan uniformitas (keseragaman) dalam belajar.
  • Mengorganisasi belajar sebagai suatu proses eksplorasi dan penemuan.

Sosialisasi
Dalam proses belajar siswa melatih bekerja sama dalam kelompok diskusi. Mereka bertanggung jawab bersama dalam proses memecahkan masalah.

Ciri – ciri sosialisasi yang baik yaitu:

  • Fasilitas sekolah
  • Perangsang (incentives)
  • Kelompok demokratis

Individualisasi
Dalam mengorganisasi belajar mengajar, guru memperhatikan taraf kesanggupan siswa, dan merangsangnya untuk menentukan bagi dirinya sendiri apa yang dapat dilakukan sebaik – baikny

Ciri – ciri individualisasi yang baik yaitu:

  • Perbedaan – perbedaan vertikal
  • Perbedaan – perbedaan kualitatif

Sequence
Belajar sebagai gejala tersendiri dan hendaknya diorganisasikannya dengan tepat berdasarkan prinsip konteks, fokalisasi, sosialisasi dan individualisasi.

Ciri – ciri sequence yang baik yaitu:

  • Pertunbuhan itu bersifat kontinu
  • Pertumbuhan tergantung dari tujuan
  • Pertumbuhan tergantung pada munculnya makna
  • Pertumbuhan merupakan perubahan dari penguasaan yang langsung menuju kepada kontrol yang jauh.
  • Pertumbuhan merupakan perubahan dari yang konkret ke arah yang abstrak
  • Pertumbuhan sebagai suatu gerakan dari yang “kasar dari global” kearah yang membedakan.
  • Perubahan merupakan proses transformasi.

Evaluasi
“Evaluasi adalah suatu alat untuk mendapatkan cara – cara melaporkan hasil – hasil pelajaran yang dicapai, dan dapat memberi laporan tentang siswa kepada siswa itu sendiri dan orang tuanya”. Ciri – ciri evaluasi yang baik yaitu:

  • Penilaian pada hasil – hasil langsung
  • Evaluasi dan transfer
  • Penilaian langsung dari proses belajar

(Slameto, 2003: 35 – 53)

Berdasarkan pernyataan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa prinsip – prinsip yang terdapat pada proses belajar mengajar yang meliputi perhatian, aktivitas, appersepsi, peragaan, repetisi, korelasi, konsentrasi, sosialisasi, individualisasi, evaluasi, konteks, fokus dan sequence yang dapat menimbulkan tercapainya tujuan mengajar.

Mengajar: Teori Tentang Mengajar | Angga Prasetya | 4.5