Fungsi Ciri-ciri Contoh Jenis Tembang Dolanan

Pengertian Tembang Dolanan

Tembang dolanan merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang harus dilestarikan. Apalagi pada zaman serba modern seperti sekarang ini. Dalam pembahasan ini akan dijelaskan mengenai pengertian, jenis-jenis, dan judul serta lirik tembang dolanan.

Salah satu warisan budaya yang dahulu digemari oleh anak-anak (Jawa) adalah tembang dolanan. Tembang dolanan yang biasanya dinyanyikan oleh anak – anak ketika bermain dan bersosialisasi dengan lingkungannya merupakan karya seni yang sangat menarik karena di dalamnya terkandung makna yang tersirat, berisi pesan-pesan moral yang penting sebagai pembentuk karakter yang baik bagi anak bangsa.

Menurut Yudoyono (1984: 131), tembang berasal dari bahasa Jawa merupakan kata – kata yang dirangkaikan dan diatur seperti karangan bunga (tetembungan kang rinonce kadya kembang (jw)). Karenanya juga disebut ‘sekar’ yang merupakan tembung karma (bahasa karma) dari kembang. Sedangkan Prawiradisastra (1991: 78) menyatakan tembang merupakan karya sastra Jawa yang selalu dinyatakan dalam bentuk bahasa yang indah, agar dapat menimbulkan kenikmatan bagi yang mendengarkan lagunya dan membaca puisi-puisinya (syair-syairnya).

Pengertian Tembang Dolanan Anak

Tembang dolanan anak adalah istilah yang digunakan untuk menyebut lagu-lagu yang digunakan di dalam dolanan ‘permainan’ anak-anak. Unsur kata dolanan merujuk pada ranah budaya Jawa. Dengan demikian, tembang dolanan anak Jawa merupakan cabang seni yang hidup dan berkembang di dalam kebudayaan Jawa. Keberadaanya merupakan satu kekayaan yang mempunyai kedudukan tersendiri di hati masyarakat pendukungnya (Kartiman, 2007). Tembang dolanan anak merupakan paduan berbagai cabang seni, diantaranya adalah seni suara, seni tari, seni musik, dan seni permainan (Dharmamulya, 1992).

tembang-dolanan

Kata tembang sebuah penyebutan etnis yang berlaku di daerahJawa, Sunda, dan Bali. Diluar etnis tersebut (Jawa, Sunda, Bali) secara umum dengan penyebutan lagu daerah. Tembang artinya “syair, nyanyian, puisi”. Lebih lengkap diuraikan dalam Ngengrengan Kasusastran Djawa II, adalah:

Menurut Muljono (2007: 102) Reriptan utawa dhapukaning basa mawa paugeran tartamtu (gumathok) kang pamacane (olehe ngucapake) kudu dilagokake nganggo kagunan swara. Pendapat ini yang berarti Ciptaan (buah pikiran) atau susunan bahasa denganaturan-aturan baku (gumathok) yang cara membacanya harus dilagukan dengan menggunakan keindahan suara yang dimiliki.

Berdasarkan pendapat Purwadi (2006: 32) Kata dolanan berasal dari kata dasar “dolan” yang berarti bermain. Pengertian tembang dolanan adalah jenis lelagon yang bernuansa santai, bersenang-senang, suka cita, riang gembira dan ringan tanpa beban. Selain itu, Sugiyantoro (2005: 107) menyatakan bahwa Lagu dolanan termasuk dalam puisi, yang dalam bahasa jawa disebut sebagai geguritan tradisional yaitu suatu bentuk karya seni sastra yang tidak mensyaratkan secara ketat jumlah tiap larik atau bait (guru gatra), jumlah suku kata tiap larik (guru wilangan), dan bunyi akhir setiap larik (guru lagu) serta menawarkan keindahan tersendiri , terutama yang berwujud permainan atau pengolahan bahasa.

Suyani (2012: 35) berpendapat bahwa kata lagu dolanan Jawa menunjuk pada sebuah objek yaitu lagu-lagu atau nyanyian yang digunakan untuk mengiringi sebuah atraksi permainan Jawa. Dolanan (permainan) merupakan kegiatan yang dilakukan dengan spontan dan dalam suasana riang gembira. Jadi dalam kegiatan bermain anak harus merasa senang. Jika suatu kegiatan, meskipun permainan, kalau anak tidak merasa senang, berarti tidak lagi bisa disebut permainan, melainkan sudah termasuk dalam kategori bekerja (melakukan pekerjaan).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 85) tembang diartikan sebagai ragam suara yang berirama. Irama tersebut berupa rangkaian tangga nada yang tersusun secara urut dan harmonis sehingga menghasilkan bunyi-bunyian yang mengandung unsur-unsur keindahan atau estetik. Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa lagu dolanan di Jawa Tengah yaitu lagu-lagu atau nyanyian atau tembang berbahasa Jawa yang digunakan untuk mengiringi sebuah kegiatan permainan anak-anak khususnya di propinsi Jawa Tengah yang didalamnya mengandung makna berupa pesan ajakan maupun larangan.

Tembang dolanan melatih anak untuk berpikir secara independen dan kritis didalam frame permainan yang memiliki tata cara, syair tembang, notasi, dan gerak perwujudannya. Artinya, tembang dolanan anak dapat digunakan sebagai sarana menyampaikan pelajaran, media komunikasi sosial yang efektif, pembebasan jiwa dari kungkungan zaman yang memaksa anak masuk dalam “paket dan menu kehidupan” yang telah dirancang khusus untuk dipilih. Seorang anak diberikan kesempatan untuk bergerak dan bermain bebas sesuai alam pikiran dan “dunia” sesuai dengan realitas jamannya (Sani, 1997).

Tembang dolanan anak dalam buku ini juga dapat digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran bahasa Jawa oleh para guru bahasa Jawa dan para peneliti. Penguasaan bahasa dalam tembang dolanan anak dapat member kontribusi kepada tingkat ketrampilan dan keahlian anak seperti membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara dalam bahasa Jawa (simak Kivi, dkk. 2013). Merrel (2004) menyatakan bahwa dengan metode nyanyian dapat membentu seseorang menurunkan tingkat sress pada posisi normal. Berkait dengan penguasaan bahasa, Chastain (1988) menjelaskan pentingnya metode musical untuk mempercepat dan mempermudah penguasaan bahasa pada anak.

Tembang dolanan anak memiliki bentuk, makna, dan fungsi yang sarat dengan warna estetika tradisional. Konsep dasar yang diusung oleh tembang dolanan anak adalah konsep rukun, gembira, seni, daya dinayan ‘saling memberi (kekuatan) dan membantu’ antarpeserta dan lingkungan, dan konsep hiburan (Wahyu, dkk.,1994). Berbeda dengan kesenian lain sejenis seperti gending dolanan dan karawitan yang mengenal gaya yang berbeda antara gaya Surakarta dan Yogyakarta yang menjadi identitas seni masingmasing (Palgunadi, 2002), maka tembang dolanan lebih bersifat universal, kecuali pada pemakaian bahasa yang mengenal dialek. Walaupun begitu titi laras tembang tetap menunjukkan notasi yang hampir sama.

Dalam dunia karawitan, gending dolanan memang memiliki kekhususan yang diwujudkan dalam bentuk dan garap gending. Varian bentuk gending dolanan merupakan spesifikasi yang ditandai oleh perubahan bentuk suatu gending akibat dari perkawinan alur kesinambungan kedalaman lagu dengan tatanan di dalam gending. Sedangkan garap gending dolanan merupakan spesifikasi yang ditandai oleh permainan instrument tertentu yang khusus sebagai amanah gending. Secara visual antara bentuk dan garap gending dapat ditengarai perbedaannya dari bentuknya sendiri dan struktur garap gendingnya.

Sedangkan kata dolanan berasal dari kata dasar dolan yang berarti bermain. Dolanan dapat diberi makna bermain-main. Dalam Kamus Bausastra Jawa (2002) dolanan diartikan sebagai barang sing kanggo ndolani, sarana sing kanggo seneng-seneng.

Dari pengertian tembang dan dolanan menurut para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tembang dolanan merupakan karya sastra Jawa (tembang) yang dinyanyikan oleh anak-anak Jawa untuk mengiringi dalam permainan.

Menurut Lestari (2009: 129) Tembang dolanan yaiku tembang sing biasa ditembangake dening bocah-bocah ing tlatah Jawa Tengah lan Jawa Timur nalika padha dolanan bebarengan. Ing jaman biyen tembang-tembang dolanan iku ditembangake bebarengan nalika bengi padhang mbulan. Pernyataan tersebut mengandung arti lagu yang biasa dinyanyikan oleh anak – anak di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat dengan bermain bersama-sama. Di jaman dahulu lagu-lagu dolanan dinyanyikan bersama pada saat terang bulan di malam hari.

Menurut Endraswara (2010: 17), tembang dolanan adalah sejenis lelagon. Lelagon itu memiliki aturan yang bebas (manasuka). Manasuka berarti bebas, meskipun tidak bebas sama sekali. Bebas, berarti aturan yang mengikat tidak terlalu. Sifat manasuka ini yang membuka kemungkinan tembang dolanan menjadi wahana bermain yang bermacam-macam.

Menurut Prawiradisastra (1976: 5), tembang dolanan itu biasanya dilagukan oleh anak-anak untuk membuat lebih senang dalam mereka bermain-main. Biasanya disertai gerak gerik tertentu menurut macam lagu dolanan dan permainannya.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tembang dolanan adalah suatu jenis lagu (tembang) yang biasanya dinyanyikan oleh anak-anak saat bermain (dolanan), bisa disertai dengan gerakangerakan tertentu. Biasanya tembang dolanan berirama senang, semangat, dan gembira sesuai dengan karakter anak.

Peranan dan Fungsi Tembang Dolanan

Tembang dolanan mempunyai peranan penting dalam memperkenalkan budaya Jawa. Menurut Hidayah (2013: 34) Lagu dolanan Jawa mempunyai peranan yang penting untuk anak-anak karena di dalam lagu dolanan tersebut terdapat nilai-nilai pendidikan dan simbol-simbol kehidupan yang dapat dijadikan tuntunan untuk anak-anak. Nilai-nilai pendidikan dan simbol-simbol kehidupan tersebut dapat dilihat melalui makna budaya yang terdapat pada lagu dolanan Jawa. Lagu dolanan Jawa harus dipertahankan pada zaman sekarang ini karena lagu dolanan Jawa sekarang mulai tergerus akan lagu anak-anak modern yang berbahasa Indonesia yang isi lirik lagunya kebanyakan mengandung tentang percintaan antara anak lakilaki dan perempuan. Sementara, Rosmiati (2014: 1) menyatakan peranan tembang dolanan dapat membantu pembentukan karakater pada anak usia dini. Anak-anak dapat merasakan kehadiran musik sebagai sarana untuk menemani aktivitas dalam bermain.

Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa peranan tembang dolanan untuk anak usia dini dapat membentuk karakter anak serta dapat mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam tembang dolanan.

Pada tembang dolanan terdapat fungsi yang terkandung dalam setiap bait. Hal ini diperkuat oleh pendapat Winarti (2010: 3), yaitu : Ada beberapa fungsi tembang dolanan adalah:Fungsi regulatoris yaitu bentuk kebahasaan yang beupa afiksasi dan adanya kata perintah yang bermakna menyuruh orang lain.

Fungsi ini terkait dengan perintah maupun larangan untuk melakukan tindakan tertentu. Fungsi interaksi yaitu fungsi bahasa untuk menjalin hubungan antara penutur dan penerima tutur. Fungsi personal yaitu fungsi cerita tentang minat diri.Fungsi heuristik yaitu fungsi penggunaan bahasa untuk memperoleh ilmu pengetahuan, mempelajari lingkungan dan bersifat mendidik.Fungsi imajinatif yaitu penggunaan bahasa untuk menciptakan gagasan-gagasan yang bersifat khayal.Fungsi informatif yaitu penggunaan bahasa untuk menginformasi sesuatu, memberikan pertanyaan-pertanyaan, atau menjelaskan sesuatu kepada orang lain.

Fungsi tembang Dolanan Anak disinggung teori Fungsi, menurut Yunita (2014: 474). Bahwa sastra lisan mempunyai empat fungsi yaitu bentuk hiburan, sebagai alat pengesahan pranata dan lembaga kebudayaan, alat pendidikan anak-anak, dan sebagai alat pemakai dan pengawas agar norma-norma masyarakat di patuhi oleh kolektifnya.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi tembang dolanan sebagai bentuk hiburan, didalam tembang dolanan tersirat nilai-nilai dan norma-norma yang harus dilakukan oleh orang khususnya orang Jawa.

Ciri-ciri Tembang Dolanan

Tembang dolanan tidak memiliki kesamaan dengan tembang lainnya. Tembang dolanan memiliki ciri khas tersendiri. Menurut Muljono (2007: 103) menyatakan ciri-ciri lagu (lagon) atau tembang dolanan yaitu : tidak terikat guru lagu (pada lingsa), setiap gatra tidak terikat guru gatra (jumlah wanda), bentuk lagunya bebas, pada umumnya sifat lagunya gembira, meriah baik berisi permainan maupun sindiran.

Sedangkan menurut Andayani (2014: 246-247) ciri-ciri tembang dolanan yaitu : penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan, bersifat tradisional, ada dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda, bersifat anonim, mempunyai bentuk berumus dan berpola, mempunyai kegunaan (fungsi), bersifat pralogis, bersifat polos dan lugu.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri tembang dolanan lagunya bebas, bersifat tradisional dan dalam lagunya mengandung makna tertentu.

Jenis dan Contoh Tembang Dolanan

Dibawah ini adalah jenis-jenis tembang dolanan dan contoh tembang dolanan. Menurut Endraswara (dalam Utami, 22-24: 2013 ) mengelompokkan tembang dolanan menjadi 8 kelompok, yaitu sebagai berikut:

  1. Proto folksong, yakni lagu dolanan yang disebut pula nyanyian rakyat, berisi puisi sederhana, sehingga digemari anak-anak. contoh tembang dolanan: Pipa ledheng ayo dheng…
  2. Lagu nina bobo (lullaby), yakni lagu dolanan yang biasa digunakan oleh orang tua yang ingin menidurkan anaknya atau pada saat anaknya menangis untuk menenangkan jiwa anak. contoh tembang dolanan: Lela Ledhung dan Mbulan Lolok.
  3. Lagu profetik, yakni lagu dolanan yang memuat nafas profetik, atau wawasan kebijaksanaan ke arah hidup yang baik. Arah kebijaksanaan ini bisa mengarah pada Ketuhanan atau kemanusiaan. contoh tembang dolanan: Turi-turi Putih.
  4. Lagu permainan (play song), yakni lagu yang digunakan untuk mengiringi permainan anak-anak yang cukup banyak, biasanya dilakukan anak wanita pada malam hari untuk mengisi kesepian desa. contoh tembang dolanan: Jamuran, Cublak-cublak Suweng.
  5. Lagu perjuangan, yakni lagu yang bernafas perjuangan dan membakar semangat anak agar menjadi pejuang tangguh, bernuansa kepahlawanan, berlatar belakang sejarah. contoh tembang dolanan: Jaranan, Gugur Gunung.
  6. Lagu jenaka, yakni lagu yang menggugah humor anak, karena dunia anak penuh dengan humor. Melalui humor, anak menjadi suka.
    contoh tembang dolanan: Kate Dipanah.
  7. Lagu mantra anak, yakni lagu yang menerapkan mantra khusus dengan syair dan do’a-do’a agar harapannya tercapai dengan baik. Mantra dikemas dengan bahasa yang lugas tidak arkhais. contoh tembang dolanan: Konang-konang.
  8. Lagu sindiran, yakni lagu yang banyak menyimpan pesan atau sindiran. Lagu ini bertujuan agar ada perhatian khusus dari figure yang disindir. contoh tembang dolanan: Menthog-menthog.

Referensi:

Sahid Teguh Widodo, Ph.D, 2013, Tembang Dolanan Anak
Devi Ayu Pratiwi, 2015, Peningkatan Kemampuan Kosakata…..
Nuning Oktaviana, 2016, Peningkatan Keterampilan Menyanyi….

Fungsi Ciri-ciri Contoh Jenis Tembang Dolanan | Angga Prasetya | 4.5