Matematika: Teori Belajar Menurut Para Ahli

Pada umumnya teori belajar terbagi menjadi empat golongan, yaitu teori belajar kognitivisme, teori belajar keperilakuan (behaviorism), teori belajar sibernetika, dan teori belajar humanisme. Menurut para ahli dan psikolog telah mencurahkan pikiran, waktu dan tenaga untuk menyusun banyak teori belajar, lebih banyak dari yang dicurahkan untuk menyusun teori kontemporer lain mana pun. kemudian muncullah pertanyaannya, apakah sebenarnya teori belajar itu? Teori belajar adalah merupakan kumpulan prinsip umum yang saling berhubungan dan penjelasan atas sejumlah fakta serta penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar (Rusuli, 2014).

Menurut Rahayu (2007:2), Hakikat Pembelajaran Matematika adalah proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan seseorang (pelajar) melaksanakan kegiatan belajar matematika. Pembelajaran matematika juga harus memberikan peluang kepada siswa untuk berusaha dan mencari pengalaman tentang matematika.

Berikut ini teori belajar matematika menurut para ahli :

Teori Belajar Bruner

Menurut Bruner belajar matematika adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat didalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu,(dalam Hudoyo, 1990:48) Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi karena tanpa adanya situasi tersebut maka peserta didik tidak akan bisa bertahap menguasai konsep. Untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan tekhnologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga atau media lainnya. Bruner melalui teorinya mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak baiknya diberi kesempatan memanipulasi benda-benda atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan dapat diotak atik oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika. Melalui alat peraga yang ditelitinya anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang diperhatikannya.

Tahapan belajar menurut Brunner

  1. Tahap enaktif, Dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam memanipulasi objek.
  2. Tahap ikonik, Tahapan dimana kegiatan siswa berhubungan dengan mental, merupakan gambaran dari objek yang dimanipulasinya.
  3. Tahap simbolik, Tahapan dimana anak-anak memanipulasi simbol-simbol atau objek tertentu.

Teori Belajar William Brownell

Menurut William Brownell (1935) bahwa belajar itu pada hakekatnya merupakan suatu proses yang bermakna. Ia mengemukakan bahwa belajar matematika itu harus merupakan belajar bermakna dan pengertian. Khusus dalam hubungan pembelajaran matematika di SD, Brownell mengemukakan apa yang disebut “Meaning Theory(Teori Makna)” sebagai alternatif dari “Drill theory (Teori Latihan Hafal Ulangan)“. Teori ini menyatakan bahwa :”Belajar matematika merupakan belajar bermakna, dalam arti setiap konsep yang dipelajari harus benar-benar dimengerti sebelum sampai pada latihan atau hafalan.”

TEORI BELAJAR MENURUT PARA AHLI

Brownell mengemukakan tentang Teori Makna (Meaning Theory) sebagai pengganti Teori Latihan Hafal/Ulangan (Drill Theory).
Intisari dari Teori Drill adalah :

Matematika untuk tujuan pembelajaran dianalisis sebagai kumpulan fakta yang berdiri sendiri dan tidak saling berkaitan. Anak diharuskan menguasai unsur-unsur yang banyak sekali tanpa diperhatikan pengertiannya. Anak mempelajari unsur-unsur dalam bentuk seperti yang akan digunakan nanti dalam kesempatan lain.
Anak akan mencapai tujuan ini secara efektif dan efisien dengan melalui pengulangan.

Brownell mengemukakan ada 3 keberatan utama berkenaan dengan teori Drill dalam pengajaran matematika, yaitu :

  1. Teori drill memberikan tugas yang harus dipelajari siswa yang hampir tidak mungkin dicapai.
  2. Keberatan yang lainnya berkaitan dengan reaksi yang dihasilkan oleh drill.
  3. Tidak memadai dalam pengajaran aritmatika, karena tidak menyediakan kegiatan untuk berfikir secara kuantitatif.

Sedangkan intisari dari Teori Makna adalah :

  1. Anak harus melihat makna dari apa yang dipelajarinya.
  2. Teori drill dipakai setelah konsep, prisip, dan proses telah dipahami oleh siswa.
  3. Mengembangkan kemampuan berfikir dalam situasi kuantitatif.
  4. Program aritmatika membahas tentang pentingnya dan makna dari bilangan.

Teori Belajar Dienes

Menurut Dienes bahwa konsep-konsep matematika itu akan lebih berhasil dipelajari bila melalui tahapan tertentu.
Tahapan belajar menurut Dienes itu ada enam tahapan secara berurutan, yaitu sebagai berikut.

  1. Bermain bebas (Free Play)
  2. Permainan (Games)
  3. Penelaahan kesamaan sifat (searcing for Communities)
  4. Representasi (Representation)
  5. Simbolisasi (Symbolization)
  6. Formalisasi (Formalitation).

Teori Belajar Gagne

Teori yang diperkenalkan Robert M.Gagne pada tahun 1960-an pembelajaran harus dikondisikan untuk memunculkan respons yang diharapkan.

Menurut Gagne, belajar matematika terdiri dari objek langsung dan objek tak langsung.

  1. Objek-objek langsung pembelajaran matematika terdiri atas : Fakta-fakta matematika, Ketrampilan-ketrampilan matematika, Konsep-konsep matematika, Prinsip-prinsip matematika
  2. Objek-objek tak langsung pembelajaran matematika adalah : Kemampuan berfikir logis, Kemampuan memecahkan masalah, Sikap positif terhadap matematika, Ketekunan, Ketelitian

Teori Dienes (Joyfull Learning)

Zoltan P. Dienes adalah seorang matematikawan yang memfokuskan perhatiannya pada cara pengajaran. Dienes menekankan bahwa dalam pembelajaran sebaiknya dikembangkan suatu proses pembelajaran yang menarik sehingga bisa meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran matematika.

Teori Belajar Zoltan P. Dienes

Teori ini menyatakan bahwa “Tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkrit akan dapat dipahami dengan baik dan benda atau objek dalam bentuk pemainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.”

Dalam konsepnya itu, Dienes membagi tahap-tahap belajar dalam 6 tahap, yaitu :

  1. Permainan Bebas (Free Play), Yaitu dengan melakukan aktifitas yang tidak berstruktur dan tidak diarahkan.
    Di mana siswa mengadakan percobaan yang mengotak-atik benda-benda konkrit dan abstrak dari unsur yang sedang dipelajarinya itu.
  2. Permainan yang Disertai Aturan (Games), Siswa meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu.
  3. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for comunities), Siswa diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti.
  4. Representasi (Representasi), Yaitu tahap pengambilan kesamaan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu yang bersifat abstrak. Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang sifatnya abtrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari.
  5. Simbolisasi (Symbolization), Yaitu merumuskan representasi dari setiap konsep dengan menggunakan simbol matematika.
  6. Formalisasi (Formalization), Dalam hal ini siswa dituntut untuk menurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut.

Teori Belajar Hanbury

Dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika, yaitu Siswa mengkonstruksi pengetahuan matematika dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, Matematika menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, Strategi siswa lebih bernilai, Siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.

Matematika: Teori Belajar Menurut Para Ahli | Angga Prasetya | 4.5